Muhammadiyah sebagai gerakan Islam

MUHAMMADIYAH SEBAGAI GERAKAN ISLAM MODERN DI INDONESIA

oleh Khoiron Khulud

Dosen : Dr. Romelah


Mata Kuliah Al Islam dan Kemuhammadiyahan Program Studi Magister Manajemen Direktorat Program Pascasarjana Universitas Muhammadyah Malang


PENDAHULUAN

Indonesia adalah negara yang mempunyai sejarah pendidikan yang beragam. Hal ini dikarenakan banyak organisasi-organisasi yang menyandingkan pendidikan sebagai sarana pergerakan maupun komitmen. Dari sekian banyak organisasi tersebut, Muhammadiyah adalah salah satu organisasi yang sampai saat ini masih menunjukkan eksistensinya dan bahkan berkembang dengan sangat pesat seiring perkembangan zaman yang membuat Muhammadiyah menjadi salah satu organisasi Islam yang terbesar di Republik Indonesia (Hasan, 2003, hlm. 23 dalam : Zarro, M., Yunani.,Dhita, A.N. 2020 )

Kelahiran Muhammadiyah tidak bisa dilepaskan dari gerakan pembaharuan Islam. Sosok KH. Ahmad Dahlan sebagai pencetus sekaligus sebagai inovator pola gerakan merupakan figur central yang tidak bisa dilepaskan dalam memberikan warna dan ciri khas dalam gerakan Muhammadiyah. Pola gerakan Muhammadiyah yang vis a vis kultur masyarakat jawa pada saat itu, dianggap sebagai gerakan yang bertentangan dengan tradisi masyarakat. Gaya dakwah dan gerakan KH. Ahmad Dahlan yang banyak dipengaruhi oleh tokoh-tokoh gerakan pembaharuan seperti Jamaludin Al-Afghani, Rasyid Ridha, Muhammad Abduh dan tentu saja figur central gerakan wahabiah yaitu Muhammad Ibn Abdul Wahab. Pengaruh tokoh-tokoh tersebut tercermin dan dapat dilihat dari pola gerakan dan gaya dakwah KH. Ahmad Dahlan yang cenderung modert yang merujuk pada model Muhammad Abduh (Schacht, 1991) dan Rasyid Ridha, tetapi tanpa kompromi yang merujuk pada model Muhammad Ibn Abdul Wahab (Kim, 2010). Dalam konteks Muhammad Ibn Abdul Wahab, tidak bisa dilepaskan atas perannya ketik Arab Saudi memulai kebangkitan (Arab Renaissance) (Haj, 2002; Dennerlein & Hamid, 2010). 

Muhammadiyah adalah salah satu organisasi Islam tertua dan terbesar di Indonesia tidak bisa mengelak dari tuntutan perubahan akibat globalisasi. Muhmammadiyah merupakan gerakan Islam yang secara formal menyebut adanya gerakan amal ma’ruf nahi munkar. Tetapi juga Muhammadiyah dapat dijuluki dengan berbagai identitas seperti Islam Modernis, Islam Moderat, Islam Murni dan Islam Berkemajuan (Burhani, Ahmad Najib. 2016). Pada tulisan ini penulis akan secara khusus menguraikan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam Modern di Indonesia.


PEMBAHASAN

Muhammadiyah sebagai Organisasi Islam Muhammadiyah (pada saat berdiri ditulis Moehammadijah) adalah nama gerakan Islam yang lahir di Kauman Yogyakarta tanggal 18 November 1912. Pada saat waktu berdirinya dan mengajukan pengesahan kepada pemerintah Hindia Belanda menggunakan tanggal dan tahun Miladiyah. Adapun pertepatan waktu dengan tanggal Hijriyah ialah tanggal 8 Dzulhijjah 1330 Hijriyah. Pendiri Muhammadiyah adalah seorang Kyai yang dikenal alim, cerdas, dan berjiwa pembaru, yakni Kyai Haji Ahmad Dahlan, yang sebelumnya atau nama kecilnya bernama Muhammad Darwisy. Muhammadiyah didirikan dalam bentuk organisasi atau perkumpulan atau perhimpunan resmi, yang sering disebut dengan “Persyarikatan”, yang waktu itu memakai istilah “Persjarikatan Moehammadijah”. (Nasir, 1994, hlm. 15). 

Muhammadiyah merupakan gerakan Islam berdasar pada Dakwah Amar Makruf Nahi Munkar, beraqidah Islam dan bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah. Muhammadiyah didirikan oleh KH. A. Dahlan pada 8 Dzulhijjah 1330 Hijriyah atau tanggal 18 November 1912 Masehi di Kota Yogyakarta. Muhammadiyah, demikian gerakan ini diberi nama oleh pendirinya dengan maksud untuk bertafa’ul (bepengharapan baik), dapat mencontoh dan meneladani jejak perjuangannya dalam rangka menegakkan dan menjungjung tinggi agama Islam yang semata-mata demi terwujudnya ‘Ihzul Islam wal Muslimin, kejayaan Islam sebagai realita dan kemuliaan hidup umat Islam sebagai realita. (Hamdan,1994, hlm. 29).

Istilah  yang  akhir-akhir  ini  sering  dipakai,  baik  oleh  orang  Muhammadiyah  maupun non-Muhammadiyah,   untuk   mengidentifikasi   organisasi   ini   adalah   Islam   Berkemajuan. Istilah   ini,   misalnya,   dipakai   dalam   buku   yang   berjudul   Islam   Berkemajuan   :   Kisah Perjuangan   K.H.   Ahmad   Dahlan   dan   Muhammadiyah   Masa   Awal   (2009)   dan   Islam Berkemajuan untuk Peradaban Dunia (2015). Bahkan, istilah “berkemajuan” ini secara resmi menjadi  slogan  dari  Muktamar  Muhammadiyah  ke-47  di  Makassar  tahun  2015,  yakni  : “Gerakan Pence rahan Menuju Indonesia Berkemajuan”.( Muhammad Kahfi, 2022)

Secara   ringkas   bisa   dikatakan   bahwa   Muhammadiyah   disebut   sebagai   gerakan modernis.Karena    sejak    kelahirannya,    organisasi    ini    menjadi    penarik    gerbong    dari modernisasi,  yang  sering  diartikan  sebagai  rasionalisasi  di  Indonesia.Ini  bisa  dilihat  dari berbagai  aktivitas  dilakukan  sejak  1912.Diantaranya  adalah  penekanan  pada  pendidikan modern yang menempatkan pada akal pada posisi yang sangat penting, menggunakan system kelas,  dan  mengajarkan  materi  yang  dibutuhkan  zamannya.Sistem  kedokteran  modern  pun dipakai  sebagai  pengganti  dari  system  perdukunan  dan  takhayul.  Kiai  Ahmad  Dahlan, misalnya mengecam sikap taklid buta, termasuk mengikuti apa saja kata orang tua dan nenek moyang  tanpa mempertimbangkan  dengan  akal  sama  sekali.  Kiai  Dahlan  menegaskan, “Manusia harus mengikuti aturan dan syarat yang sah yang sesuai dengan akal pikiran yang suci”. (Kahfi, Muhammad, 2021)

Menurut Prof. Nakamura, Muhammadiyah juga meneguhkan jati dirinya dengan “Islam Berkemajuan”, sebagai gerakan sosial dengan tujuan untuk membawa Indonesia menuju kemajuan. Gagasan tentang kemajuan ini dimaknai dalam konteks nilai-nilai kemanusiaan universal. Inilah diantaranya yang menyebabkan lahirnya banyak resolusi dari muktamar yang menunjukkan tingkat keberterimaan yang sangat tinggi terhadap nilai demokrasi dan juga dukungan terhadap perlindungan hak-hak minoritas. Muhammadiyah juga menyerap semangat untuk menandingi hegemoni”Arabisasi” dan membangun Islam Indonesia dasar kajian kritis terhadap nilai-nilai Al-Quran. Salah satunya adalah sikap Muhammdiyah untuk memilih berdiri di belakang mereka yang mengalami marginalisasi dan diskriminasi (Najib, Burhani Ahmad, 2016).

Pengaruh gerakan pembaharuan Islam terhadap KH. Ahmad Dahlan sebagai figur central pada gerakan Muhammadiyah, melahirkan perspektif Muhammadiyah sebagai gerakan reformis modernis. Sehingga tiga ciri gerakan yang menjadi identitas Muhammadiyah yang terangkum dalam triloginya yaitu sebagai gerakan Islam, dakwah dan tajdid. Realitas ini merujuk pada sosioagama di Indoensia, dimana tradisi tahayul, bid’ah dan khurafat yang begitu kuat dalam terminologi Geertz disebut dengan istilah Islam Jawa (Tago, 2013). Disisi lain realitas sosio-pendidikan menunjukkan adanya dikotomi sistem pendidikan Islam dan sistem pendidikan umum, sehingga melahirkan ketimpangan pada lulusan sekolah umum di satu pihak dan lulusan pesantren di lain pihak (Nashir, 5 : 2016). 

Wajah Muhammadiyah sebagai gerakan modernis dan reformis dalam Islam memiliki karateristik yang unik, kesan doktriner namun sistematis teologis, eksklusif namun inklusif, anti jawa namun banyak hal dalam Muhammadiyah merupakan perwujudan sifat baik orang jawa (Nakamura, 2012). Merujuk pada perspektif tersebut, maka Muhammadiyah dalam terminologi sebagai sebuah institusi dan disisi lain sebagai sebuah idiologi mengahadirkan pola gerakan yang bersifat komprehensif. Tidak hanya pada aspek sosio-agama tetapi juga pada aspek yang lain sehingga bagi Muhammadiyah menjadi keniscayaan menghadirkan pandangan-pandangan baru baik dalam konteks keagamaan maupun dalam konteks sosial masyarakat (Agus,  Setiawan Bahar, 2019).

Muhammadiyah merupakan gerakan pencerahan menuju Indonesia Berkemajuan.Meski terlihat bersinggungan, namun “Islam Berkemajuan” adalah merupakan respon dari fenomena yang  ada  yaitu  globalisasi,  terutama globalisasi  kebudayaan,  baik  dalam  bentuk  Arabisasi ataupun Westernisasi.Globalisasi  sering  dipahami  sebagai  proses  penyatuan  dunia  di  mana waktu,  jarak,  dan  tempat  bukan  lagi  persoalan  dan  ketika  hal  dan  setiap  orang  di  bumi  ini terkait  satu  sama  lain.  Ada  empat  pergerakan  utama  dalam  globalisasi  yaitu  barang  dan layanan,  informasi,  orang  dan  modal.Perpindahan  dengan  sangat  cepat  hanya  terjadi setelah revolusi  dalam  teknologi  telekomunikasi  dan  transportasi  pada  beberapa  decade  belakangan ini. Filosofi  yang  mendasari  globalisasi  adalah  asimilasionisme.  Dalam filosofi  ini,  yang kuat  akan  mendominasi  yang  lemah.  Maka  dari  itu,  dalam globalisasi  budaya,  salah  satu dampaknya   adalah   homogenisasi.Ini   misalnya  terwujud   dalam   bentuk   McWorld   atau McDonaldization.Contoh   lainnya  adalah   memandang   Islam   secara   homogen   dengan mengidentikannya dengan Arab dan Arabisasi. (Najib, Burhani Ahmad, 2016).



SIMPULAN

Muhammadiyah  merupakan  gerakan  Islam  Berkemajuan  yang  berani  mengeluarkan pikiran  yang  sehat  dan  murni  dengan  dasar  al-‘quran dan hadits. Lahirnya Muhammadiyah dilatar belakangi beberapa faktor yaitu: campuraduknya kehidupan agama Islam di Indonesia, ketidakefisienan lembaga-lembaga pendidikan agama Islam, aktivitas misi-misi Katholik dan Protestan, dan sikap acuh tak acuh dan tak jarang sikap merendahkan dari golongan intelegensia terhadap Islam. KH. Ahmad Dahlan sebagai seorang ulama yang tegas berupaya membenahi masyarakat Indonesia yang berlandaskan cita-cita agama Islam. Usaha-usahanya ditujukan hidup beragama. Muhammadiyah memfokuskan usahanya kepada memperbaiki hidup beragama dengan nilsi amal pendidikan dan sosial. Kyai Haji Ahmad Dahlan mampu menawarkan bentuk pendidikan baru sebagai aslah dari pendidikan pesantren dan sekolah Belanda. Pendidikan Muhammadiyah juga bisa menghasilkan generasi muda yang lebih mumpuni dibanding dengan alumni sekolah Belanda dan pesantren



DAFTAR PUSTAKA


Ahmad Najib Burhani, “Muhammadiyah Berkemajuan”, (Bandung : PT Mizan Pustaka, 2016), 


Ahmad Dahlan, “Kesatuan Hidup Manusia” dalam Abdul MunirMulkhan, Pesan-Pesan Dua Pemimpin Besar Islam Indonesia : Kiai Haji Ahmad Dahlan dan Kiai Haji Hasyim Asy’ari (Yogyakarta : PT Persatuan, 1986),


Hamdan. (2009). Paradigma pendidikan muhammadiyah, paradigma baru pendidikan muhammadiyah (Cet. I). Jogyakarta: Ruzz Media. 


Hasan, M. Ali & Mukti, A. (2003). Kapita selekta pendidikan islam (Cet. 1). Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya


Agus, Setiawan Bahar, 2019. Manhaj Tarjih Dan Tajdid : Asas Pengembangan Pemikiran dalam Muhammadiyah 


Zarro, M., Yunani.,Dhita, A.N. (2020). Muhammadiyah sebagai gerakan islam dan pendidikan. FACTUM: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah, 3 (1). 2019.

Comments

Popular posts from this blog